Saat keluarga Cendana masih diliputi suasana duka pasca meninggalnya Soeharto, mereka masih menyempatkan diri menikmati Cabuk Rambak, dengan mengundang penjualnya di Ndalem Kalitan Solo.
Hari masih pagi. Dua hari setelah Soeharto meninggal dunia (Minggu, 27 Januari 2008), anak-anak Presiden RI kedua yang dijuluki The Smilling General, yakni Tutut, Titiek, dan Mamiek masih berada di Ndalem Kalitan Solo. Pagi itu (Selasa, 29 Januari 2008), mereka hendak berangkat ke Astana Giribangun, makam ayahandanya.
Seorang perempuan datang menumpang becak masuk ke halaman Ndalem Kalitan dengan membawa bakul. Mbok Tris namanya. Ia pedagang Cabuk Rambak dari Gedangan Solo Baru. Perempuan ebrusia 72 tahun itu lantas masuk ke paviliun timur Ndalem Kalitan, tempat keluarga Cendana berkumpul. Ada apakah?
Cabuk Rambak adalah kegemaran keluarga Cendana. Makanan ini merupakan ingenuity alias kreativitas kuliner bangsa Indonesia. Berupa ketupat nasi yang diiris tipis-tipis, dan disiram dengan sedikit sambal wijen (dicampur kemiri dan kelapa parut yang terlebih dulu digongseng). Ada yang menyukai sambal yang sangat pedas, ada yang menyukai rasa sambal yang gurih. Rasa sambalnya memang sangat khas. Hidangan ini disajikan dengan kerupuk nasi yang disebut karak.
Mbok Tris pagi itu “disambut” keluarga Soeharto yakni Siti Hardiyanti Rukmana (Tutut), Sigit, Bambang Trihatmojo, Siti Hediyati, Tommy, dan Siti Hutami (Mamik). Mereka bersantap pagi alias sarapan dengan menikmati Cabuk Rambak Mbok Tris. (***)