Masyarakat Jawa mengenal tradisi sesaji dalam kehidupan sehari-hari. Sesaji dalam kultur religi masyarakat Jawa dikenal sebagai bentuk lain dari doa, atau permohonan kepada Yang Maha Kuasa. Uniknya, hampir semua prosesi upacara adat jawa yang mengadirkan sesaji, selalu terdapat jajan pasar.
Dalam adat Jawa, ada tiga peristiwa peristiwa penting dalam siklus kehidupan manusia. Ketiga fase itu adalah Metu, Manten, dan Mati (lahir, perkawinan dan kematian). Masayarakat Jawa memiliki upacara khusus unntuk ketiga peristiwa tersebut. Dalam upacara itu juga terdapat sesaji. Masing-masing upacara memiliki ciri tersendiri, bahkan dalam upacara perkawinan teradpat empat jenis sesaji, yakni pasang tarub, sesaji siraman, sesaji midodareni, sesaji panggih/temu. Semua upacara ini, selalu menyertakan jajan pasar.
Dalam sesaji pasang tarub (upacara perkawinan) jajan pasar tidak boleh ketinggalan. Sesaji pasang tarub sebagai sesaji utama dalam perkawinan harus tersedia 27 jenis sesaji yang mencitrakan kehidupan manusia.
Sesaji berjumlah 27 tersebut terdiri dari : sesaji buntalan, tumpeng megana, brokohan, sanggan, tumpeng robyong, tumpeng gundul, jerohan sapi, ketan mancawarna, pala kependhem, pala kesampar, pala gemantung, empon-empon, empluk-empluk, ganten komplit, mentahan, pisang ayu, pisang raja pulut, kolak kencana, sega punar, sega kebuli, sega golong, unjukan dan jajan pasar, aran kembang, sega liwet, asrep-asrepan, ketan kolak dan kendhi.
Makna sesaji ini menurut keyakinan adat Jawa dipersembahkan kepada roh jahat yang sering mengganggu ketenteraman. Dengan kata lain, sajen atau sesaji ini merupakan upeti yang dipersembahkan kepada roh jahat yang berada di sekeliling kita. Setelah diberi sesaji, roh jahat diyakini sudah tidak akan mengganggu kepada orang yang mempunyai hajat sehingga upacara manten selesai tanpa ada hambatan apapun. (hn)