Perayaan ulang tahun ke 78 pasar Gede Solo yang jatuh pada tanggal 12 Januari 2008 lalu diperingati dengan menghadirkan 78 tumpeng jajan pasar. Seluruh tumpeng Jajan Pasar itu bisa dinikmati masyarakat Solo secara gratis.
Pasar yang telah dicanangkan sebagai cagar alam budaya ini sebenarnya dikenal sebagai pasar “candi” atau sakral. Awalnya, pasar ini digunakan sebagai bagian dari religius ketimbang kegiatan ekonomi.
Bagi Paku Buwono X (1893-1939) Pasar Gede merupakan sebagai simbol duniawi karena letaknya di sebelah timur sumbu poros sakral Kraton – tugu pemandengan dalem. Pasar Gede manjadi cukup berarti keberadaannya dan menjadi ciri keseimbangan antara kehidupan religi dan duniawi karena pasar ini terletak tak jauh dari Mesjid Agung yang terletak di sebelah barat alun-alun.
Dalam sejarah kota Solo, keberadaan Pasar Gede, tercatat telah meninggalkan jejak sejarah fungsi bangunan pasar kedalam tiga kurun zaman.. Pertama, Pasar Gede dikenal sebagai pasar ‘candi’ (sakral), kedua sebagai simbol kosmologi projo-kejawen kraton yang dikenal sebagai konsep ’sar-gedhe’ dan simbol lahirnya budaya kota. Pasar ini dibangun pada 12 Januari 1930 semasa pemerintahan Pakoe Buwono X (1893-1939) oleh Ir. Herman Thomas Karsten (1884-1945).
Karsten, adalah arsitek yang dikenal dengan konsep memadukan unsur lokal dengan barat. Karyanya diakui memiliki pesan humanisme dan dapat diterima (acceptable) oleh masyarakat, dan memiliki unsur kesejarahan (historically).
Acara peringatan 78 tahun Pasar Gede yang diadakan KOMPPAG (Komunitas Pedagang Pasar Gede), Mataya arts&heritage, PAPASUTA (Paguyuban Pasar Tradisi Surakarta) ini juga menhhadirkan 78 tumpeng jajan pasar sebagai rangkaian peringatan.
Jajanan Pasar yang dihadirkan dalam upacara peringatan ulang tahun itu adalah Kue Koe, Wajik Merah, Sentiling, Lapis, Cantik manis, Wajik, Klepon, Semar mendem, Ketan Tholo atau turuk bintul, Carang gesing, Onde-onde gandum, Timus, Srabi, Arem-arem, Srabi juruh, Cetot, Cabuk rambak, Apem Jawa, Lopis, Gendar, Ketan juruh, Ketan ragi, Ketan bubuk, Ketan salak, Wajik Jawa, Getuk pisang, Jenang kolang-kaling, Gandos bakar, Jenang grendol, Jenang Pati, Jenang sagu, Jenang mutiara, Jenang sumsum, Jenang ketan hitam, Blanggreng, Gatot goreng, Tape goreng, Klenyem, Lemper, Mata roda, Meniran, Cucur, Coro bikan, Sagan, Gedang godhog, Gedang goreng, Getuk kasar, Tiwul halus, Tiwul kasar, Sawut, Cenil + klepon, Ketan hitam, Getuk tiwul, Gathot ireng, Grontol, Krasikan, Jenang ayu, Madu menoso, Wingko babad, Jenang jagung, Pes pohong, Naga sari, Jadah blondo, Getuk lindri, Lepet jagung, Oyol-oyol, Onde-onde kumbu, Mendut, Gandos rangin, Lemper bakar, Getuk goreng, Putu mayang, Ledre intip, Ande-ande lumut, Kumplang, Limpung, Bubur kacang ijo, dan Bubur ketan hitam. Wuih,…banyak juga jenis jajan pasar khas Solo ya? (hn)
wah sayang ya aku kug gag tahu ya?
tahu ggitu kan aku bisa bawa plastik dari rumah hehehehehehehe